Rabu, 27 Maret 2013

PWRI LAMPUNG HARUS MANDIRI


Yusuf Jaendar Muda, SE. atau lebih dikenal dengan panggilan akrab Yuskas yang pensiunan Sekwilda Provinsi Lampung itu pada periode kepengurusan PWRI Lampung periode 2013-2018 ini berkenan menjadi Ketua dewan penasehat PWRI, pada hari ini Rabu 28 Maret 2013 berbicara panjang lebar tentang organisasi ini dalam rapat pembubaran panitia Musda yang diselenggarakan tanggal 20 Maret yang lalu. Beliau mengharapkan PWRI tidak jadi organisasi yang cengeng dan menengadahkan tangan meminta bantuan dari Pmmda, inilah setidaknya intisari dari apa yang disampaikannya itu.

Secara pribadi saya sangat bergembira dengan apa yang disampaikan oleh Pak Yuskas, apalagi menurut selentingan yang saya dengar bahwa Pemda masih menunjukkan diskriminatif dalam penyediaan dana APBD untuk biaya operasional bagi aktivitas pensiunan PNS ini.
Seperti yang kita ketahui bahwa sebenarnya pemda Provinsi Lampung, tepat Gubernur Sachruddin ZP telah membuat lembaga tersendiri sebagai wadah aktivitas para pensiunan PNS Provinsi lampung, yaitu Ikatan Pensiunan PNS (IPPNS) dan lelbaga ini memang dianggarkan pembiayaannya karena pembentukannya adalah berdasarkan Perda. walaupun sebenarnya wadah bagi PNS memang sebelumnya telah ada dan bahkan Gubernur lampung sebelumnya telah membangun sekretariat bagi PWRI Lampung. Dan organisasi ini memiliki hirarki secara nasiona. Dan para pensiunanpun pada umumnya memiliki keanggotaan ganda, dan konon bahkan ada pula yang memiliki jabatan ganda.

Tetntu saja angin lebih cenderung ke IPPNS walau terkadang PWRI kebagian juga serpihan angin sejuk, seperti penggunaan fasilitas gedung milik Pemerintah Daerah seperti dalam penyelenggaraan Musda PWRI tanggal 20 Maret 2013 yang lalu. Tak dapat dipungkiri sebenarnya untuk menyelenggarakan Musda ini panitia telah pontang panting mencari dana hingga ke Kabupaten/ Kota se Provinsi Lampung walaupun tidak berhasil seluruhnya, dan bahkan ada Kabupaten yang menyatakan bahwa proposal yang diajuikan oleh PWRI Lampung hilang dari bundelan arsip milik Pemda setempat.

Filosofi Layang Layang.

Belajar dari layang layang yang memiliki kemampuan terbang tinggi secara licah itu hanya akan terjadi manakala layang layang itu diterpa angin yang cukup kencang. Demikianpun sebuah perudahaan besar, kebesarannya itu selalu saja ditandai dengan keberhasilan peruhaan itu melalui berbagai terpaan permasalahan, dapat dikatakan tidak ada perusahaan yang besar tampa terpaan permasalahan yang besar pula. sebuah organisasi tidak akan menjadi besar dan mandiri manakala tidak menghadapi permasalahan bahkan badai dan prahara. Oleh karenanya situasi yang kurang nyaman yang dihadapi oleh PWRI ini harus kita jadikan momen penting untuk memperbaiki ketahanan dan keberadaan organisasi yang benar benar mandiri.

Tertarik dengan apa yang didampaikan oleh ketua penasehat tersebut di atas, maka mulai sekarang kita jangan berfikir untuk meminta fasilitas dan belas kasihan Pemda, tetapi sebaliknya kita harus berfikir keras tentang apa yang dapat kita berikan kepada Pemda, apa yang dapat kita bantukan kepada Pemda, manakala Pemda merasakan kemanfaataan keberadaan PWRI maka secara otimatis Pemda akan menganggarkan biaya operasional bagi PWRI. Sebetulnya banyak peluang PWRI untuk berbuat sesuatu kata Bang Yuskas, ambil saja misal, bahwa Dr. Fuad Bawazir sejatinya adalah ahli dan berpengalaman tentang pengelolaan pajak, bukan tidak mungkin PWRI menghadirkan Dr.Fuad Bawazir untuk kepentingan kelancaran pemungutan dan pengelolaan Pajak di lampung ini.

Contoh yang lain lagi adalah keberadaan Dr. Haryono Suyono pencetus dan pengembang konsep Pemberdayaan keluarga POSDAYA. Konsep ini sejatinya sangat dibutuhkan oleh masyarakat Lampung, apalagi seperti kabar yang dilansis media massa daerah di Lampung yang mengatakan bahwa aya beli masyarakat desa di lampung akhir akhir ini telah mengalami penurunan yang drastis. Ini menunjuukkan bahwa masyarakat desa kini sedang menghadapi masalah besar, yang ermasalahan ini tidak cukup diantisipasi oleh para penyuluh pertanian, karena permasalahan ini sangatlah kompleksnya, bukan semata masalah teknis pertanian, melainkan permasalah sikap dan karakter yang selama ini terhitung lalai kita bina bersama. Belajar dari sejarah orang orang sukses, para pelaku niaga dan pengusaha sukses, ternyata kesuksesan itu bukan tergantung kepada jumlah modal yag dimiliki, serta penguasaan teknis, tetapi lebih dikarenakan sikap atau karakter yang dimiliki oleh orang orang sukses itu.

Forum Putra Putri Pensiunan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar